Kamis, 16 September 2010

tipssssss

Kuasai Kecerdasan Emosi Anda!

Ditulis oleh: Anne Ahira

"Siapapun bisa marah. Marah itu mudah.
Tetapi, marah pada orang yang tepat,
dengan kadar yang sesuai, pada waktu
yang tepat, demi tujuan yang benar, dan
dengan cara yg baik, bukanlah hal mudah."

-- Aristoteles, The Nicomachean Ethics.

Mampu menguasai emosi, seringkali orang
menganggap remeh pada masalah ini.
Padahal, kecerdasan otak saja tidak
cukup menghantarkan seseorang mencapai
kesuksesan.

Justru, pengendalian emosi yang baik
menjadi faktor penting penentu
kesuksesan hidup seseorang.

Kecerdasan emosi adalah sebuah gambaran
mental dari seseorang yang cerdas dalam
menganalisa, merencanakan dan
menyelesaikan masalah, mulai dari yang
ringan hingga kompleks.

Dengan kecerdasan ini, seseorang bisa
memahami, mengenal, dan memilih
kualitas mereka sebagai insan manusia.
Orang yang memiliki kecerdasan emosi
bisa memahami orang lain dengan baik
dan membuat keputusan dengan bijak.

Lebih dari itu, kecerdasan ini terkait
erat dengan bagaimana seseorang dapat
mengaplikasikan apa yang ia pelajari
tentang kebahagiaan, mencintai dan
berinteraksi dengan sesamanya.

Ia pun tahu tujuan hidupnya, dan akan
bertanggung jawab dalam segala hal yang
terjadi dalam hidupnya sebagai bukti
tingginya kecerdasan emosi yang
dimilikinya.

Kecerdasan emosi lebih terfokus pada
pencapaian kesuksesan hidup yang
*tidak tampak*.

Kesuksesan bisa tercapai ketika
seseorang bisa membuat kesepakatan
dengan melibatkan emosi, perasaan dan
interaksi dengan sesamanya.

Terbukti, pencapaian kesuksesan secara
materi tidak menjamin kepuasan hati
seseorang.

Di tahun 1990, Kecerdasan Emosi (yang
juga dikenal dengan sebutan "EQ"),
dikenalkan melalui pasar dunia.

Dinyatakan bahwa kemampuan seseorang
untuk mengatasi dan menggunakan emosi
secara tepat dalam setiap bentuk
interaksi lebih dibutuhkan daripada
kecerdasan otak (IQ) seseorang.

Sekarang, mari kita lihat, bagaimana
emosi bisa mengubah segala keterbatasan
menjadi hal yang luar biasa....

Seorang miliuner kaya di Amerika
Serikat, Donald Trump, adalah contoh
apik dalam hal ini. Di tahun 1980
hingga 1990, Trump dikenal sebagai
pengusaha real estate yang cukup
sukses, dengan kekayaan pribadi yang
diperkirakan sebesar satu miliar US
dollar.

Dua buku berhasil ditulis pada puncak
karirnya, yaitu "The Art of The Deal
dan Surviving at the Top"
. Namun jalan
yang dilalui Trump tidak selalu
mulus...

Wawan ingat depresi yang melanda dunia
di akhir tahun 1990? Pada saat itu
harga saham properti pun ikut anjlok
dengan drastis. Hingga dalam waktu
semalam, kehidupan Trump menjadi sangat
berkebalikan.

Trump yang sangat tergantung pada
bisnis propertinya ini harus menanggung
hutang sebesar 900 juta US Dollar!
Bahkan Bank Dunia sudah memprediksi
kebangkrutannya.

Beberapa temannya yang mengalami nasib
serupa berpikir bahwa inilah akhir
kehidupan mereka, hingga benar-benar
mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh
diri.

Di sini kecerdasan emosi Trump
benar-benar diuji. Bagaimana tidak,
ketika ia mengharap simpati dari mantan
istrinya, ia justru diminta memberikan
semua harta yang tersisa sebagai ganti
rugi perceraian mereka.

Orang-orang yang dianggap sebagai teman
dekatnya pun pergi meninggalkannya
begitu saja. Alasan yang sangat
mendukung bagi Trump untuk putus asa
dan menyerah pada hidup. Namun itu
tidak dilakukannya.

Trump justru memandang bahwa ini
kesempatan untuk bekerja dan mengubah
keadaan. Meski secara finansial ia
telah kehilangan segalanya, namun ada
"intangible asset" yang tetap
dimilikinya.

Ya, Trump memiliki pengalaman dan
pemahaman
bisnis yang kuat, yang jauh
lebih berharga dari semua hartanya yang
pernah ada!

Apa yang terjadi selanjutnya?

Fantastis, enam bulan kemudian Trump
sudah berhasil membuat kesepakatan
terbesar dalam sejarah bisnisnya.

Tiga tahun berikutnya, Trump mampu
mendapat keuntungan sebesar US$3
Milliar. Ia pun berhasil menulis
kembali buku terbarunya yang diberi
judul "The Art of The Comeback".

Dalam bukunya ini Trump bercerita
bagaimana kebangkrutan yang menimpanya
justru menjadikannya lebih bijaksana,
kuat dan fokus daripada sebelumnya.

Bahkan ia berpikir, jika saja musibah
itu tidak terjadi, maka ia tidak akan
pernah tahu teman sejatinya dan tidak
akan menjadikannya lebih kaya dari yang
sebelumnya. Luar biasa bukan? :-)

Kecerdasan Emosi memberikan seseorang
keteguhan untuk bangkit dari kegagalan,
juga mendatangkan kekuatan pada
seseorang untuk berani menghadapi
ketakutan.

Tidak sama halnya seperti kecerdasan
otak atau IQ, kecerdasan emosi hadir
pada setiap org & bisa dikembangkan.

makalah

instal tenggat aktuku sebelah sisi kanan yang kuharap optimistis positif
menghasilakn profit
lingkup kilasan jaminan
aset yang tak terhingga sampai ajaltiba 
jika saja sesuai dengan rencana harapan akan lebihmanis
haflah pengajian dan tafsir
jingga orange selalu warna untung
kisah nyata dalam berjuang
faktual dan relistis saja sob
jangan bnyak malasdan hura2
gunakan sisa waktu umurmu

eraser

PM Terus Usut Israel ke Mahkamah HAM PBB

E-mail Print PDF
Insiden Freedom Flotilla akan dibahas di Dewan Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa akhir September 2010
 
Hidayatullah.com--Tim Pengacara Muslim terus berupaya menyeret Israel ke meja hijau atas serangan berdarah militernya terhadap para relawan asal Indonesia yang tergabung dalam kafilah kemanusian untuk Gaza, Freedom Flotilla, 31 Mei 2010, lalu.

Rencanya, hari ini (17/9), delegasi TPM, Mahendradatta dan Adnan Wirawan akan bertolak ke Jenewa, Swiss untuk mendaftarkan Tuntutan Formal (Formal Complaint) mewakili relawan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) dan wartawan Hidayatullah Media, Surya Fachrizal.

Selain membawa Tuntutan Formal, TPM juga akan membawa berbagai barang bukti seperti hasil visum para korban, baju berdarah, rekaman kejadian, foto peluru yang diambil dari tubuh korban Surya Fachrizal, serta barang-barang yang dirusak oleh tentara Israel.

Namun, hingga kini proyektil peluru yang diambil dari tubuh Surya masih diamankan di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Subroto Jakarta.
 
"Jika Dewan HAM PBB meminta peluru itu dihadirkan, kita akan minta peluru itu (dari RSPAD)," kata Mahendradatta kepada www.hidayatullah.com  usai jumpa pers di kantornya, di Jakarta, siang tadi.

Mahendra mengatakan, hal yang menggembirakan, Insiden Freedom Flotilla akan dibahas di Sidang Umum Dewan Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa pada 27 September 2010 nanti. Katanya, TPM telah diperkenankan memasukkan laporannya sebagai salah satu referensi pembahasan. [sur/hidayatullah.com]

kearifan

Sensus membuktikan, di negara maju sebesar AS ternyata sepertujuh warganya miskin

Hidayatullah.com--Biro Sensus AS hari Kamis (16/9/2010) melaporkan bahwa jumlah warga miskin usia kerja meningkat hingga angka tertinggi sejak tahun 1960an. Resesi ekonomi membuat jutaan warga AS menjadi kere tahun lalu, di mana 1 dari 7 orang hidup di bawah standar kelayakan.

Laporan tahunan yang mencakup tahun 2009, tahun pertama pemerintahan Obama itu mencatat, secara keseluruhan angka kemiskinan 14,3% atau 43,6 juta orang, naik dari 13,2% (39,8 juta orang) pada tahun 2008.

Warga Amerika yang tidak memiliki perlindungan kesehatan naik dari 15,4% menjadi 16,7% atau setara 50,7 juta orang. Kebanyakan kehilangan asuransi kesehatan yang diberikan majikannya selama resesi.

Meskipun tahun ini Kongres AS meloloskan perubahan besar-besaran undang-undang kesehatan guna memberikan perlindungan kepada mereka yang tidak memiliki asuransi kesehatan, namun dampaknya baru mulai bisa dirasakan pada 2014.

Angka kemiskinan semua umur sebesar 14,3%, merupakan yang tertinggi sejak tahun 1994. Angka ini lebih rendah dibanding perkiraan para ahli demografi yang meramal sebesar 14,7-15%.

Berdasarkan perhitungan kasar Biro Sensus AS, Mississippi menjadi negara bagian dengan penduduk miskin terbanyak, 23,1%. Diikuti oleh Arizona, New Mexico, Arkansas dan Georgia. Sementara New Hempshire memiliki jumlah penduduk miskin paling sedikit yaitu 7,8%.

Sebagaimana dilansir AP, David Johnson, kepala divisi ekonomi di kantor sensus AS memperkirakan, perluasan tunjangan bagi pengangguran berhasil membantu 3,3 juta orang lolos dari garis kemiskinan tahun lalu. Dengan fasilitas itu, seorang pekerja yang kehilangan mata pencahariannya mendapat bantuan setara 99 pekan hari kerja.

Resesi tidak hanya membuat kondisi ekonomi warga AS berubah. Keadaan demografi juga ikut berubah, di mana dalam satu rumah bisa dihuni lebih dari satu kepala keluarga dan dewasa usia 25-34 tahun pulang ke rumah untuk tinggal bersama orangtua mereka supaya bisa menghemat pengeluaran.

Tahun 2009, garis kemiskinan yang ditetapkan adalah USD21.954 per keluarga dengan 4 anggota. Jumlah itu belum dipotong pajak, tidak termasuk harta kekayaan yang dimiliki seperti rumah. Tidak termasuk juga bantuan non-tunai seperti kupon makan gratis.